Sunday, April 10, 2011

The Sweetest Goodbye (1)

*I try to write a story, well short story. So, enjoy it. Leave comments, please :P (still continuing)*

The Sweetest Goodbye

Arantya Puteri Zhafi
Jakarta, Sabtu 22.00 WIB

“Hey, Tony! Tequila sunrise 1 gelas lagi!” seruku sambil mengacungkan gelas kecil yang bening itu.

“Oh tidak, tidak, lihat wajahmu. Kelihatan sekali kau sudah mabuk, Teman.” balas Antony, sang pelayan sekaligus bartender di tempat ini. Ia datang menghampiriku, mengambil gelas yang tadi ku acungkan, dan sebotol tequila yang baru saja kuminum sampai habis. Aku mencibir. Dia malah membersihkan mejaku rupanya.

“Ayolah, aku tidak mabuk. Aku masih bisa berbicara dengan jelas bukan? Ayolah, Bung, kali ini saja. Kau tidak pernah membiarkan aku mabuk.” kataku sambil menghisap sisha.

Antony menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. “Astaga, Ara. Kau sudah 2 jam duduk disini, menghisap sisha, minum tequila. Ku beritahu, ini bukan club malam melainkan tempat sisha. Tempat ini memang menyediakan bir, tapi bukan club malam.”

Aku menghiraukannya. Kuhisap sisha lagi. Cih, baranya sudah habis.

“Cepat pulang, Kawan. Kau tidak ingin ibumu datang kesini dan melihatmu dengan keadaan seperti ini lagi bukan? Lagipula, kau kan tidak bisa minum bir banyak-banyak.” katanya sambil berlalu. Kalimat yang diucapkan Tony cukup menyadarkanku, namun aku tidak berniat untuk pulang.

Urgh, andai saja Tony bisa berbaik hati sedikit pasti aku sudah menghabiskan 1 botol tequila lagi. Benar sih, aku memang tidak tahan dengan bir tapi setidaknya dengan bir aku bisa menenangkan diriku. Sedikit.

Aku mengerang kesal. Lalu bangkit dari tempat duduk dan membayar pesananku—1 botol tequila dan sisha rasa anggur—kemudian aku bergegas ke mobil dan mengendarai kendaraan itu dengan lambat. Benar apa yang dikatakan Tony, kepalaku pusing dan aku tidak ingin mengambil resiko jika aku mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal. Aku harus mengutamakan keselamatanku.

Sambil memijat pelan pelipisku, aku memandang keluar kaca mobil. Kuperhatikan lingkungan sekitarku. Langit sudah gelap, tertutup awan hitam dan tidak ada cahaya matahari lagi, bahkan bintang pun tak bersinar tertutup asap polusi. Lalu aku melihat ke arah lain. Oh God, jalan ini—begitu banyak kenangan yang telah kulalui disini. Aku ingat betul lampu-lampu jalan di jalanan ini, kemudian jalanannya yang tidak begitu bagus, banyak lubang-lubang kecil berbatu, entah karena endapan atau ulah manusia. Lalu beberapa warung dan kedai yang terletak di sepanjang jalan raya ini, juga beberapa restoran cepat saji yang sering kudatangi bersamanya. Ya, bersamanya.

Begitu tersadar aku kembali mengingat orang itu, aku membanting setir dan tancap gas. Beberapa mobil di depan ku salip dengan mudah. Aku tidak peduli jika pengendara mobil-mobil tersebut meneriakiku dengan kata-kata kasar karena selain kususul, aku pun membunyikan klakson berkali-kali pada mereka.

Oh tidak, kenapa aku belum bisa melupakan orang itu?

~*~*~

Angga Sastrawijaya
Bandung, Sabtu 22.00 WIB

“Anggaaaaa!”

Crot! Coca-cola yang gue minum muncrat kena baju. Sialan.

“Eh, sorry sorry. Gue bikin lo kaget ya? Sorryyy.” oh, ternyata yang barusan bikin gue kaget si Andar berkacamata ini toh.

Gue ngelap baju yang kena minuman bersoda itu. “Elah, gausah minta maaf, Dar. Lo gak salah kok. Gue tadi lagi ngelamun aja.” kata gue sambil nempelin bagian baju yang basah itu ke tembok deket balkon kamar. Gue meper.

Kemudian Andar ikutan jongkok di samping gue. Gue gak ngerti kenapa reaksi dia malah kayak gitu. Tapi gue gak peduli, mau dia berdiri, jongkok atau terjun dari balkon kamar lantai dua rumah gue sekali pun. Karena tadi terhenti, gue pun lanjut minum Coca-Cola lagi dengan sekali teguk. Gue dan Andar sama-sama melihat ke arah langit hitam di atas. Mungkin bagi orang-orang dari sebrang jalan yang melihat gue dan Andar, kayak sepasang homo sedang meratapi nasib seksualnya.

“Ehm, jadi…” gue memulai pembicaraan, “ada apa lo kesini, Dar? Mau minjem kaset PS 3?”

Andar membetulkan letak kacamatanya. “Bukan, gue kesini karena permintaan Nyokap lo.” jawabnya. Kalem.

Gue cengo. “Hah? Nyokap?”

“Iye, Nyokap lo.” kata Andar, lagi-lagi kalem. “Kasian Nyokap lo, kebingungan ngeliat lo akhir-akhir ini keseringan ngurung diri di kamar mulu. Udah jarang ikut makan malem bareng. Terus suka ngelamun tiba-tiba.”

Gue cengo. Lagi. “Boong lo?”

Andar menatap gue tajam. “Serius! Buset. Kagak percaya? Nih ye, bukti kalo gue kesini karena Nyokap lo yang minta, gue masuk ke kamar lo sekarang nih tanpa susah payah. Nyokap lo ngasih kunci kamar cadangan lo ke gue begitu tahu kalo lo suka ngunci kamar. Jelas?”

“Jelas, Dar.” Gue nunduk, gatau mau ngomong apa lagi. Gue gatau Nyokap sampai segitunya. Karena gue merasa kaki gue mulai pegel, akhirnya gue duduk di lantai balkon.

Andar ikutan duduk. Nih anak ngikutin gue mulu perasaan. “Eh, Ngga.” Andar garuk-garuk kepalanya. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini? Kayak orang kehilangan semangat hidup tau gak. Di kampus, lo juga jadi pendiem. Biasanya kan lo paling rame.” Andar berhenti sejenak. “Ini bukan gara-gara Blackberry lo ilang kan?”

“Anjrit!” gue sewot. “Kagak lah, masa gue galau gara-gara BB. Labil abis.”

“Oh, gue tahu deh! Kalo bukan BB, berarti gara-gara mantan lo itu bukan, yang anak Jakarta itu, siapa? Ara?” ceplos Andar.

Crap. Gue diem.

Andar nyengir. “Aha, lo diem berarti iya kan gara-gara cewe itu! Aduh, Anggaaa, lo putus udah setengah tahun yang lalu kan? Kenapa efek lo masih sampe sekarang? Lo masih contact sama dia gak?”

Gue ngangkat bahu. “Udah lose contact. Semenjak BB gue ilang. Hp CDMA gue kecemplung. FB sama Twitter gue juga, di deactive sama Nyokap.”

“Ck ck, kasian banget hidup lo. Hampa.” jawab Andar, kalem. Polos.

Andar kampret. “Hibur gue napa, Dar. Gue bingung sama dia, kenapa gue bisa putus. Padahal, gila gak sih, udah capek-capek 2 setengah tahun gue jaga relationship gue sama dia. Taunya, putus dengan gampang gitu aja. Tanpa alasan yang jelas pula! Mana setelah putus gue pindah ke Bandung lagi. BB gue ilang di rest area pas mau kesini. Hp CDMA gue kecemplung got pas gue bantu beres-beres halaman rumah pas pindahan. Gila gak sih?”

Argh, gak tahan, akhirnya gue berdiri dan mulai nendang pembatas balkon dari besi. Andar, untuk beberapa saat gak bergerak seperti patung, lalu dia bangkit menghampiri gue, nepuk bahu gue dari belakang.

“Lo tau, Ngga…” Andar memulai pembicaraan. “Cinta itu suci, gak pernah salah. Kalo lo stress kayak gini gara-gara cinta, jangan salahin perasaan kalian. Berarti ada beberapa lubang lagi yang belum lo tambal, ibaratnya begitu. Dan lo, mau gimana pun juga, harus bisa nambal lubang itu supaya kayak dulu lagi.”
Awalnya gue kira Andar bakal menertawakan gue, tapi ngeliat dia ngomong bijak kayak ini, gue merasa dia memang benar. 

“Menurut gue, mungkin aja, Ara minta putus karena gak bisa ngejalanin LDR, alias pacaran jarak jauh sama lo. Bro, Jakarta-Bandung emang gak jauh, tapi dia mikir panjang pas lo ngelanjutin kuliah di Oxford. Gila Bro, Oxford! Gue bangga punya temen kayak lo. Udah lolos test toefl, dapet beasiswa pula!” kata Andar dengan mata berbinar-binar.
Gue nunduk. “Kalo gitu, Ara gak bahagia ya begitu tahu gue keterima di Oxford?”

Dari sudut mata gue, gue bisa lihat raut wajah Andar kaget.

“Gue gak tau…harus bersikap gimana sama Ara” kata gue, lebih mirip berbisik, ”kalau suatu saat, gue sama dia ketemu.”

Hening beberapa saat. 

Hening, hening dan hening.

“Lo tau, Ngga. Gue nahan ngakak ngeliat lo jadi mellow gini..HAHAHAHAHA!” celetuk Andar sambil megangin perut, ngakak.

Kampret. Gue gondok 7 kilo.

“Tapi yah,” Andar berhenti tertawa. “ Menurut gue kalo suatu waktu lo berdua ketemu, ya bersikap selayaknya ke temen biasa aja. Toh, nggak ada salahnya kan?”

Setelah pulih dari kegondokan gue, gue ngangkat bahu. “Gue takut reaksi dia lain.” jawab gue singkat.

“Gue yakin Ara bisa bersikap sebagai teman.” balas Andar. “Justru, yang gue takutkan adalah elo, Man.”

Gue ngangkat alis. “Kok gue?”

Andar ngeliat ke langit, lagi. “Kalo pas lo ketemu Ara, entah kapan, entah bagaimana, entah lo siap apa gak, dan ternyata lo jatuh lagi sama dia… Gimana?”

Gue speechless.

~*~*~

1 Minggu Kemudian
Jakarta, Sabtu 19.00 WIB

“Mom?...Mom! Kenapa baru angkat teleponnya? Aku sempat panik Mom belum angkat teleponnya padahal sudah dering ke 8! Astaga, aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku kira ponsel Mom ketinggalan, terselip atau…dicuri?! Atau bisa saja Mom sendiri yang…. ya ampun, lupakan. Aku mulai kacau. Urgh.”

“Ara Sayang, Mom tidak apa-apa. Mom baik-baik saja…” ya Tuhan, aku sempat panik, kukira Ibuku tidak selamat di lautan manusia di sebuah acara ulang tahun. Apa mungkin aku yang terlalu berlebihan? Aku jadi bingung, siapa sebenarnya yang Ibu dan siapa yang Anak.

Aku memindahkan ponsel ke telinga kiri. “Maafkan aku, Mom. Mom masih di acara ulang tahun teman Ayah?”
“Iya Sayang. Bayangkan, beratus-ratus orang hadir dalam pesta ulang tahun teman Ayahmu itu. Yah, wajar saja diadakan di hotel bintang lima. Tapi Mom bahkan tidak menyangka ada beberapa teman sekolah Mom yang hadir. Dunia sempit sekali bukan? Ini bukan hanya acara ulang tahun, tapi reuni juga. Uuh, Mom bisa betah disini.” jawabnya. Curhat.

“Astaga…” Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Ayah mana?”

“Oh, Ayahmu sedang mengambil dessert buat Mom. Kau tahu, dessert disini benar-benar enak.”

Aku menahan tawa. “Jadi, kira-kira kapan Mom pulang?”

Hening sejenak. “Entahlah, mungkin pukul 9 kami sudah sampai rumah. Kau di daerah Kemang ‘kan, Sayang?”

“Baiklah. Iya Mom, aku sedang makan sushi. Mom mau nyusul?” tawarku.

“Oh, tidak Sayang.” balasnya, “Kau tahu aku tidak suka sushi.”

Ah, aku baru ingat.

“Hmm,” Mom seperti sedang berpikir ingin menanyakan sesuatu, “bagaimana majalahnya? Sudah selesai urusan editingnya?”

Aku mengangguk meskipun aku tahu Mom tidak bisa melihatnya. “Yap. Sekarang aku sedang editing untuk covernya. Tenang saja, semua akan beres tepat waktu.”

“Baguslah, Sayang. Semoga lancar ya. Oh, itu ada teman sekolah Mom lagi! Uh senangnya, sampai nanti ya Sayang.“ Klik. Telepon terputus. Aku memasukkan Blackberry-ku ke dalam tas kecil sambil menggeleng. Dasar Mom, kalau sudah bertemu teman-teman lamanya pasti langsung heboh dan sulit mengajaknya untuk pulang.
Aku kembali fokus ke laptop. Sebagai editor majalah, aku harus memilih gambar dan artike yang paling banyak diminati anak muda zaman sekarang. Dan aku bersyukur bisa membagi waktuku sebagai editor majalah dan juga sebagai mahasiswi di Universitas Indonesia.

Kemudian aku memanggil pelayan dan memesan 1 porsi sushi lagi. Sushi di daerah Kemang memang paling enak. Sambil menyesap ocha yang masih hangat, aku membuka akun Twitter-ku. Hm, satnight sendirian memang tidak enak, mungkin lain kali aku harus mengajak Tasya, Vanny, dan teman-teman lainnya. Mereka pasti ikut dengan senang hati.
Setelah beberapa saat aku editing cover untuk majalah dan menelepon agenku, aku merasa ingin buang air kecil. Seorang pelayan datang setelah aku memanggilnya dan kuminta padanya untuk menitip laptopku sejenak. Aku takut sesuatu terjadi pada laptopku, dicuri misalnya? Aku lebih khawatir pada data-data di dalamnya. Data tugas kuliah, editing majalah, foto-foto dan hal-hal lainnya...membayangkan data-data penting itu hilang membuatku bergidik ngeri. 

Aku bergegas ke toilet di pojok restoran. Tolilet wanita sedang kosong rupanya, cepat-cepat aku masuk ke dalam tanpa menoleh ke kanan dan kiri. setelah selesai menyampaikan hajatku, aku mencuci tangan di wastafel, dekat toilet wanita.

“Ya ampun gak nyangka ya Angga ganteng banget!”

DEG!

“Iyalah, Ci. Gue bilang juga apa. Beruntung kan gue punya temen yang punya kenalan anak ITB, ada yang ganteng, single pula! Gue langsung minta ke temen gue itu buat dikenalin ke gue sama lo.”

Sesaat aku terdiam, kaku. ITB? Mungkinkah dia? Kemudian aku mencuci tangan dengan perlahan-perlahan. Supaya tidak dicurigai, aku mengeluarkan BB dan mulai memainkannya. Aku juga melakukan gerakan kamuflase dengan bercermin dan merapikan rambutku untuk menguping—ugh, aku tidak suka berdandan di dalam toilet. Aku tidak berani melihat kedua wajah cewe itu dengan jelas. Namun yang pasti, salah satu dari mereka ada yang berambut panjang selurus lidi dan..oh, berambut pendek bob—si rambut pendek itulah yang barusan bilang cowok itu tampan!

“Kira-kira dia bisa suka sama gue gak ya, Rin?”

Si cewe rambut panjang lidi mengangguk mantap. Oh, namanya ada Rin-Rinnya. “Bisa lah Citra! Elo kan cantik. Udah gini aja, selama makan lo bersikap manis sama Angga. Kalo bisa, kasih sinyal kalo lo mulai suka sama dia.” kata-kata itu membuatku menahan napas.

“Iya sih…” si cewe rambut pendek bob—oh Citra, namanya—mulai memakai bedak. “Angga juga tadi kayak ngasih perhatian lebih ke gue. Duh, dia ganteng banget sih, Rinaaa!”

“Cie hahaha kesengsem lo? Berarti selera gue gak salah nih ya

Aku tidak tahan dengan pembicaraan mereka. Aku bergegas keluar toilet dan kembali ke mejaku.

~*~*~

 Jakarta, Sabtu 19.00 WIB

Man, ayolah sekali-sekali ikut gue satnight. Gue udah ajak temen gue yang tinggal di Bandung juga, kebetulan dia lagi di Jakarta. Cewe, Bro, cewe!”

Ini hari ke empat gue di Jakarta. Tiga hari yang lalu pas gue lagi nyantai di rumah, gue di telepon Nyokap yang emang lagi di Jakarta. Belum juga gue ngomong ‘Halo’, Nyokap udah nyerocos nyuruh gue ke Jakarta segera, dengan alasan ada acara keluarga besar dan gue, mau gak mau, harus datang. Bokap, Nyokap dan adek gue udah disana duluan, terpaksa gue naik mobil sendiri ke Jakarta.

“Percuma gue ke Jakarta kalo ujung-ujungnya gue ketemu anak Bandung juga, Dik!” balas gue. Mobil belakang meng-klakson mobil gue terus. Memang gak enak nyetir sambil teleponan.

Gue bisa mendengar Dicky—temen SMA gue di Jakarta—menghela napas dramatis. “Ayolah, sekali aja. Lagian gue gak enak udah bilang ke cewe-cewe itu kalo gue bakal ngajak elo.”

“Gue kan gak kenal.” jawab gue singkat.

“Yaelah kenalan aja, Nggaaa! Cantik-cantik lho. Lo jomblo kan? Pas tuh, ada yang lagi jomblo juga namanya Citra.” kampret, taunya Dicky nyomblangin gue.

Gue belok ke arah Kemang. “Ngga ah, gue lagi pengen sendiri.”

“Ya itu sih urusan belakangan deh, Ngga. Sekarang yang penting lo ikut gue makan di daerah Kemang. Temenin gue. Titik.” Dicky tetep ngotot.

“Kemang?” gue nngangkat alis, “Pas banget gue lagi disini. Gue lagi nyari makan. Ogah makan dirumah, lagi ada temen-temennya Nyokap gue.”

Gue bisa denger suara Dicky bersemangat. “Nah gitu dong! Janjian aja di tempat sushi. Tuh cewe-cewe udah neleponin gue mulu. Pusing!”

“Yeh, itu sih salah lo sendiri.” jawab gue sambil nyari parkir. “Yaudah cepetan kesini, gue udah nyampe.”

Okay, Bos! 5 menit juga nyampe. See ya!”

Gue memutuskan hubungan telepon itu sebelum otak gue pecah. Tuh anak ngotot banget minta ditemenin gue, ada kali sejaman gue teleponan sama dia. Berasa homo.

Gak lama kemudian, Dicky dan dua teman cewenya itu turun dari sebuah mobil. Dicky menghampiri gue yang lagi nunggu di pintu masuk sebuah restoran Jepang. Setelah ngobrol beberapa sesaat, gue dikenalin.

“Nih, Ngga. Yang ini namanya Rina.” kata Dicky memperkenalkan gue pada seorang cewe berambut lurus…kayak lidi.

Gue berjabat tangan dengan dia, kayak biasa gue nyebutin nama gue dan maksain sebuah senyum, “Angga” kata gue. Dan dia jawab, “Hai, gue Rina.”

Kemudian Dicky bilang lagi, “Nah kalo yang ini namanya Citra.”

Lagi, gue salaman sambil maksain senyum. “Angga” kata gue memperkenalkan diri.

“Citra,” cewe rambut pendek ngebob itu jawab, sambil senyum manis. “Salam kenal ya, Ngga.”

“Eh iya!!” buset, gue rada kaget tiba-tiba Rina semangat gini. “Angga, lo anak ITB kan?”

Gue ngangkat alis, takut mimik muka gue aneh, cepet-cepet gue ngangguk sambil senyum lebar. “Iya, lo anak ITB juga?”

“Bukan, gue di Gunadarma." jawab Rina.  "Nih Citra, anak Bandung lho! Tapi dia lagi nyari kuliah di Bandung. Dia kan paling muda diantara kita berempat. Ya ‘kan, Ci?”

“Iya nih hehehe.” Citra ngangguk sambil senyum. Pantes aja mukanya masih childish banget.

“Yaudah, tapi gak usah manggil gue Kakak ya hahaha,” gue mencoba bergurau,diikuti tawa dari mereka bertiga.

Setelah perkenalan yang singkat itu, kita masuk ke dalam restoran. Pelayan menunjukkan meja kosong dengan bangku yang pas berjumlah 4 buah. Ternyata restorannya lagi rame banget, pantes bangku yang tersisa cuma disini. Tapi gue bingung kenapa bangku di belakang gue cuma ada laptop di atasnya, sama tas kecil. Diliat dari modelnya, kayaknya yang duduk disitu seorang cewek.

“Eh, Dicky, Angga, gue sama Citra ke belakang dulu ya?” kata Rina tiba-tiba. Buset, baru dateng udah ke toilet aja, dasar cewe.

Okay,” jawab Dicky sambil megang menu. “Gue pesenin sushi sama minuman buat lo berdua yak.”

Okay.” jawab kedua cewe itu barengan. Gue senyum kecil, yang gue gak sadar adalah Citra malah senyum balik ke gue. Lho? Jangan-jangan tuh cewe geer gue senyumin, maksud senyum gue kan mengiyakan mereka ke toilet.

“Eh, Ngga,” bisik Dicky setelah gue dan dia memesan makanan. “Gimana menurut lo? Cantik kan?”

Gue cengo. “Hah? Siapa?”

“Aduh bego,” Dicky nahan tawa, “Ya Citra lah! Gimana? Cantik kan? Gue comblangin deh. Kayaknya dia juga mulai kesengsem sama lo. Fresh lho Ngga, masih abege.”

Gue ngangkat bahu. “Ya, lumayan sih. Tapi nggak deh, makasih, kemudaan. Lagian gue lagi pengen sendiri. Gue juga mau fokus buat Oxford dulu.”

Dicky menggeleng-gelengkan kepala. “Gue salut sama lo. Hebat banget lo, tinggal selangkah lagi udah sampe cita-cita.Gila, Oxford! Bangga gue punya temen kayak lo, Ngga!”

Gue tersenyum lebar, kata-kata yang barusan diucapin Dicky mirip sama apa yang diucapin Andar waktu dia ke rumah gue minggu lalu. “Thanks banget, Dick.”

Setelah Rina dan Citra balik lagi, dan pesenan kita udah dateng, kita berempat makan-makan sambil ngobrol dan ketawa-ketawa. Citra emang cukup banyak ngomong, dan dia banyak ngasih topik seru. Tapi bukan berarti gue tertarik sama dia.

Tiba-tiba handphone gue bunyi, nih handphone baru aja gue beli tapi udah banyak aja yang nelepon atau SMS. “Guys, gue keluar bentar ya. Mau angkat telepon.”

Gue buru-buru keluar dari restoran sebelum mereka bertiga mengiyakan. Dengan cepat gue udah di tempat parkir. Aman. “Halo?”

“Ya, halo? Angga? Kamu ini gimana sih! Pergi kok gak bilang-bilang, tau gak kamu teman-teman Mama----” great, Nyokap mulai menceramahi gue panjang-lebar. Gue dengerin dia ngomong dengan sabar, padahal kepala udah berasap. Gue mengiyakan segala omongan Nyokap dengan manis, begitu Nyokap ngomong “Kok kamu iya-iya aja sih!” gue mulai meng-oke-kan segala omongan dia. Begitu dia komentar “Kok kamu oke-oke aja sih!” gue pun diem mendengarkan. “Ya Ma, aku tahu….Iya, Iya….Habis ‘kan….Oh iya, iya….” Gue jawab sekenanya.

BRUK! Tiba-tiba punggung gue ditabrak sama seseorang dari belakang. “Aduh.”

“Eh, sorry, sorry..” Gue buru-buru nengok ke belakang, minta maaf.

Gue melihat ke seseorang—cewe—yang barusan nabrak gue, dia juga ngeliat gue. Setengah sadar, gue gak bisa nangkep jelas muka tuh cewe karena lampu parkiran remang-remang.

Entah bener apa gak, sekilas gue liat mata cewe itu membulat…kaget? “A..Angga…”

Gue gak sadar nama gue dipanggil. Selama beberapa saat, gue menghiraukan telepon dari Nyokap, menatap mata si cewe lekat-lekat. Sedetik kemudian gue sadar suara itu. Suara yang familiar bagi gue, sangat familiar malah. Suara yang gue rindukan selama ini. Suara yang udah lama pengen gue denger.

Cewe itu menutup mulutnya, seperti baru saja mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya dia ucapkan. Dia buru buru balik badan dan berlari kecil ke arah mobil merah yang gak jauh parkirnya dari mobil gue.

“Tunggu!” gue ngejar dia dari belakang. Dengan sekali gerakan, gue nangkep tangan cewe itu. Secara otomatis, dia pun berhenti berlari. Namun dia tidak menoleh ke belakang, sama sekali tidak berkutik. Tapi gue tahu, dia sedang menahan napas, tangannya sangat dingin. Seperti tangan gue sekarang ini.

“Kamu…” Gue mengenali sosok dari belakang cewe ini. Dengan rambut hitam panjang ikal, posturnya yang tegak, tubuhnya yang mungil dan wanginya. Serta dengan sendirinya, gue manggil dia dengan sebutan kamu. “A…ra?”

(status : on going)

No comments: