Sunday, April 17, 2011

Unrequited Love: He is high as stars in the sky, so I couldn't reach you.


Just for share :)

Pas gue lagi buka-buka account Facebook gue sampai ke zaman kuda gigit besi, gue menemukan foto dan beberapa comment yang membuat gue bernostalgia. Seharusnya gue tidak membuka bagian itu, karena setiap kali foto/comment itu gue lihat, gue bakal mengenang masa-masa yang ada di dalamnya. Masa-masa  1 setengah tahun yang lalu. Seperti film, saat-saat itu terulang tidak ada hentinya di otak gue. Bahkan gue sendiri tidak bisa mengontrol diri gue sendiri supaya nggak bernostalgia.

Waktu itu, gue duduk di kelas 8 alias 2 SMP. Gue lagi asik buka account Twitter gue, dan ngetweet berbagai macam hal yang lagi booming di timeline. Ternyata waktu itu, seluruh followers dan following gue lagi tuker-tukeran nomer hp dengan alasan ingin mengenal anak-anak RainCity lebih banyak lagi. Gue, yang remaja labil dan masih polos pun ikut-ikutan. Baru ada 1 orang yang SMS gue, merasa kurang asik buat SMS-an, gue pun ngetweet “Yg SMS baru 1 orang nih -_-“. Baru 1 menit gue ngetweet itu, tiba-tiba ada seorang followers gue yang mention ke gue “Give me your number :)”. Tanpa rasa curiga, dan yakin bahwa orang itu orang baik, gue pun memberikan nomer gue dan mem-follow back orang tsb.

          Disinilah awal dari semuanya.

Awal SMS-an memang masih kikuk, kita mulai dengan perkenalan kayak biasanya. Gue kelas 8, dia kelas 9. Gue di SMP Persada, dia di SMP Nusa**. Gue yang pemalu, dia yang rame. Bahkan gue inget detail kecil yang mungkin dia lupakan, dia udah 3x nanya dimana gue bersekolah. Waktu itu emang belum sering SMS-an, pas ada waktu luang aja, mungkin karena itu juga dia jadi lupa dimana sekolah gue. 

Setelah itu kita jadi cukup sering SMS-an, dari pagi, siang, sore, malem apalagi. Kita ngobrolin banyak hal. Ternyata dia tipe anak yang rame, yang friendly, gampang diajak ngobrol dan nggak membosankan. Gue merasa nyaman SMS-an sama dia, bahkan gue selalu bela-belain beli pulsa kalau tiba-tiba pulsa gue habis saat kita lagi SMS-an. Bisa gue lihat dia tipe cowok anak-anak gaul zaman sekarang—selera musiknya metalcore (gue aja ngga yakin tahu artinya), punya band beraliran metal, seorang bassist dan suka band metal baik dari dalam ataupun luar negeri. Tapi dia juga menyukai jazz, sama seperti gue. Setelah beberapa hari SMS-an dan bales-balesan mention di Twitter, dia sempat mengucapkan kata-kata manis ketika gue hendak tidur lebih dulu saat kita sedang SMS-an. Dan gue tahu, sebuah kalimat kecil yang manis mampu membuat gue nggak bisa berhenti tersenyum setiap harinya.

Semakin hari kita semakin dekat, semakin sering SMS-an, semakin banyak kata-kata manis yang ia ucapkan. Entah dengan kesadaran dia sepenuhnya atau tidak. Yang jelas, gue merasa nyaman dengan semua itu. Sempat terbesit di otak gue, kenapa gue nggak mencoba untuk menelepon/minta ketemuan?  Untuk soal itu, gue punya alasan yang kuat. Untuk telepon, gue masih malu dan takut jadi canggung. Dan untuk ketemuan, gue nggak yakin dia punya waktu luang. Selain UN, dia juga bakal pindah ke Yogya** dan menetap disana. Jadi, selama SMA akan dia lewati di Yogya, entah sampai kapan. Sempet sedih juga kenapa dia harus pindah, tapi gue bisa mengerti keadaannya. Ya, karena ada problem keluarga yang terlalu privasi untuk gue ceritakan disini. 

                Lama-kelamaan, gue mulai menyadari ada sesuatu yang nggak beres yang gue rasakan ke dia. Masa sih gue mulai suka sama dia? Bukankah aneh? Ketemu belum, telepon belum. Namun karakter yang dia tunjukkan lewat SMS-SMS dia selama ini, sukses membuat gue jatuh kepada dia. Dan perasaan ini terus meluap, sampai-sampai tidak bisa gue tahan.

                Terkadang memang tidak semua yang manusia rencanakan akan berjalan mulus sesuai apa yang diharapkan. Saat itu, kita mulai memasuki obrolan mengenai orang yang kita suka. Dan dengan polosnya, gue menyebutkan ciri-ciri dia. Dia, tanpa basa-basi saat itu, langsung bertanya pada gue, “Gue ya orangnya?”. Kampret, gue belum siap untuk ditanyai pertanyaan langsung kayak gini.

                Gue udah coba berkali-kali menutupi bahwa bukan dia orangnya dan mulai bertanya siapa orang yang dia sukai. Tapi dia belum mau menjawab pertanyaan gue itu, kalau gue belum jujur sama dia siapa orang yang gue sukai. Dengan terpaksa gue bilang orang itu dia. Keringet dingin mulai bercucuran, bahkan mungkin gue akan amnesia mendadak karena saking gugupnya untuk mengetahui reaksi dia. Saat dia balas SMS gue, dia berkata bahwa tidak ada orang yang dia sukai, dan yang membuat gue menaruh harapan, “Makanya lo unik dong biar gue suka sama lo hahaha”. Kampret.

                Gue yang emang yakin 100% bahwa gue suka sama dia pun mulai memberi dia perhatian lebih. Awal-awal waktu setelah pengakuan gue itu kita masih SMS-an seperti biasanya, tapi lama-kelamaan dia terlihat seperti menjauh. Entah perasaan gue aja atau memang kenyataan. Pernah suatu saat gue SMS dia siang-siang, dia membalas SMS gue masih dengan nada bercanda, “Bentar ya lagi mau latihan basket nih hahaha.” Begitu pun di Facebook, dia menulis status yang menunjukkan bahwa dia memang punya orang yang disukai. Dan setiap kali dia mengganti profile picture, gue akan sekedar nge-like. Namun dia sendirilah yang membuat kita comment-commentan di foto itu. Saat itu, gue berani menaruh harapan.

                Namun sepertinya tidak ada perubahan yang terjadi, melainkan dia semakin jauh dari gue, setidaknya itu yang gue rasakan. Sempat suatu saat karena gue kesal akhirnya gue menulis status menyangkut orang yang gue suka—ya, dia. Gue menulis status yang seolah-olah dia menjauh dari gue dan gue pun akan menjauh dari dia juga. Hasilnya? Dia komen status gue tsb. Isinya, “Eh jangan dong”. Gue yang gondok karena dia langsung merasa, cuma bisa membalas, “Kenapa kak?”. Dia tidak lagi membalas. Gue kesal, hari berikutnya gue menulis status lagi. Kali ini status gue menunjukkan bahwa gue memang bener-bener menyukai dia. Hubungan kita bukannya membaik, dia malah menulis di wall gue. “Lo Bogor, Gue Yogya”. Gue shock. Dan dengan polosnya gue balas wall dia, “Statusnya bukan buat lo.” 

 Dengan ini gue sadar bahwa dari awal memang dia tidak suka sama gue.

          Setelah wall dia yang kampret itu, dan status gue yang tolol itupun kita mulai jarang SMS-an. Kita juga hanya sekali dua kali mention di Twitter, tidak sesering biasanya. Sampai suatu saat, gue buka profile dia dan dia sudah punya pacar. Gue berani mengatakan bahwa saat itu gue kehilangan semangat. Gue mencoba cari tahu siapa pacarnya itu. Setelah beberapa hari mencari tahu, ternyata dia satu sekolah dengan pacar barunya itu. Gue akui, pacarnya cantik.

                Namun hubungan mereka tidak berlangsung lama. Saat gue buka profile dia beberapa minggu kemudian, dia sudah single. Gue cukup terkejut. Dan status dia saat itu mengatakan bahwa dia diselingkuhin.

                Sejak saat itu kita lost contact. Gue hanya lihat dia melalui profilenya. Suatu hari dia menulis di wall gue, “Gue hari Sabtu mau ke Bogor. Sampai bertemu disana!”. Gue kaget, asli kaget banget. Kita pun bales-balesan wall, dan sepakat janjian di salah satu mall di Bogor pukul 3 sore hari Sabtu.

                 Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu pun datang. Sebelum ketemu, gue ke rumah temen gue dulu. Gue minta tips-tips dari temen-temen gue supaya gue nggak grogi pas ketemu. Sialnya, hp gue lowbatt dan gue gak hafal nomernya. Jam 3 kurang gue capcus ke tempat ketemuan, dan keajaiban banget hp gue nyala meskipun cuma sebentar. Dia missed call sampai 3 kali. Anjrit, kesempatan gue teleponan sama dia gue lewatkan! Pas sampai di tempat tujuan, gue dan salah satu temen gue keliling mall tsb untuk mencari sosok dia. Gue hafal sosok dia melaluf foto-foto yang dia upload di account nya—tinggi, sawo matang, rambut cepak dan kurus. Tipe-tipe anak basket.

                Saat gue dan temen gue keliling melewati beberapa cafĂ© di mall tsb, temen gue berbisik ke gue, “Itu bukan? Yang tinggi pake kaos item?”. Gue mengikuti arah yang dia tunjuk. Dan boom! Memang dia orangnya. Gue buru-buru kabur. Tapi sepertinya percuma gue kabur karena dia tidak melihat ke arah gue.

                Karena kesel, temen gue bilang “Lo telepon dia. Cepet! Daripada lo nyesel nggak ketemu. Akhirnya usaha lo sia-sia! Lo pengen ketemu dia kan?”. Sungguh bijak temen gue, dan wejangan dia gue turuti. Gue pun berusaha telepon dia meskipun udah 3 kali gue tutup lagi saking gugupnya.

                “Halo? Mir?”

                Akhirnya diangkat! “Ya, halo?” gue pun teleponan sama dia sekitar 3 menitan. Lucu juga ya, kita berada di satu tempat begini, tapi malah teleponan. Gue menyebutkan apa yang gue kenakan karena takut dia melihat orang yang salah dan mengganggap itu gue.

                 Setelah menutup telepon, gue dan temen gue menuju tempat dimana dia dan temen-temennya ngumpul. Dia bilang bahwa dia lagi di food court lantai atas, dia bilang untuk dateng aja ke food court. Gue gugup banget, gue mulai keringetan. Sampai akhirnya gue di lantai atas, dia dan temen-temennya melihat gue. 

“Oh itu ya! Ayo sana sapa jangan malu hahaha.”

Gue malu banget karena temen-temen dia ngeledekin dia dengan suara lantang yang bahkan gue bisa denger. Malu abis. Akhirnya gue belok ke arah yang berlawanan dan menjauh.

“Kok lo belok ke sini? Kan dia ada sana?” tanya temen gue bingung.

“Anjrit gue malu abis.”

“Yah sayang banget. Gue yakin lo bakal nyesel.”

Gue dan temen gue belok ke XXI yang emang nggak jauh dari food court. Lagi-lagi, wejangan dia membuat gue berpikir dua kali lipat. Akhirnya gue minta temenin temen gue lagi untuk nyamperin dia. Tapi, apa daya, pacar temen gue itu datang. Rupanya mereka lagi bertengkar, dan mereka ngobrol di dalam XXI.

Dua temen gue yang lain lagi datang nyamperin gue. “Lo udah ketemu dia?”

Gue menggeleng lesu. “Cuma sepintas.”

“Anjir, lo nggak nyesel apa?” kata temen gue yang satu lagi, kalimatnya sama dengan apa yang diucapin oleh temen gue sebelumnya. “Selama ini lo kan pengen banget ketemu sama dia. Dan saat dia ada di depan mata lo, kenapa lo nggak menggunakan kesempatan emas lo itu dengan baik? Kenapa lo malah kabur?”

Gue diem.

Bener apa kata temen gue. Gue mengumpulkan keberanian untuk ketemu lagi. Tapi saat keberanian itu udah ada, gue lihat dia dan temen-temen dia menuruni escalator. It means, dia udah mau pulang.

Dan kesempatan itu berakhir begitu aja.

Malamnya gue termenung dengan penuh penyesalan.

Bener apa kata orang, penyesalan itu datangnya belakangan. Gue merasa bener-bener bodoh. Kenapa pas ketemu gue nggak nyamperin dia aja? Kenapa pas mau disamperin temen-temennya dia, gue malah kabur? Kenapa gue ngga berpikir jauh? Kenapa? Malam itu, gue menahan air mata gue untuk tidak tumpah.

Gue jadi teringat percakapan gue di Yahoo! Messenger dengan temen gue saat gue curhat soal dia.


   “Lo yakin suka sama dia?” tanya temen gue saat itu.

             “Iya, memangnya kenapa?”

             “Apa lo bisa nanggung resiko?”

             “Maksud lo?”

             “Yah, kalo misalkan lo jadian sama dia artinya lo bakal LDR alias pacaran jarak jauh kan? Dan apa lo yakin dia nggak bakal jadian sama cewe lain? Meskipun gitu, lo kan nggak bisa memantau apa aja yang dia lakukan kan?”

 

             Gue bagaikan tersadar dari alam mimpi. Seharusnya gue berpikir sampai sejauh itu. Seharusnya gue tidak jatuh kepada dia semudah itu, semudah membalikkan telapak tangan. Seharusnya gue tidak berkata jujur saat dia bertanya siapa orang yang gue suka saat itu.

                Tapi, gue tidak menyesal untuk pernah jatuh kepada dia.

                Setidaknya dengan pengalaman ini, gue belajar banyak hal.

               Dan setidaknya, gue sudah mencoba meraih dia meskipun dia tidak mudah untuk diraih.

**name/places of hidden.

No comments: